Terungkap! Ini Cara Qatar Damaikan Israel-Hamas

Tangis haru tahanan Palestina yang meninggalkan penjara militer Israel, Ofer, di tengah kesepakatan pertukaran sandera-tahanan antara Hamas dan Israel, di Ramallah di Tepi Barat. (REUTERS/Ammar Awad) 

Foto: (REUTERS/Ammar Awad)

Jakarta, CNBC Indonesia – Terlepas dari serangan Israel yang kembali menyasar wilayah Gaza, Israel dan Hamas sempat membuat rangkaian kesepakatan gencatan senjata sementara dalam sepekan terakhir. Ini dilakukan dengan imbalan pembebasan beberapa sandera Israel oleh Hamas.

Mediasi kedua negara sendiri diprakarsai oleh Qatar. Diketahui, Doha seringkali menjadi mediator konflik Timur Tengah lainnya seperti Sudan, Iran, dan Afghanistan, dalam proses menjadi tuan rumah bagi kepemimpinan Taliban.

Para pengamat mengatakan Qatar mengambil peran ini karena sebagai negara kecil namun sangat kaya yang dibangun dengan pasokan gas cair dalam jumlah besar. Maka itu, Qatar perlu menjadikan dirinya sangat diperlukan oleh komunitas internasional dan dilindungi dari intervensi yang tidak diinginkan oleh tetangganya yang lebih besar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

PILIHAN REDAKSIGaza Membara Lagi, Netanyahu Memang Tak Niat Damai dari AwalGencatan Senjata Hamas-Israel Berakhir, Qatar Buka Suara

“Boikot terhadap Qatar pada tahun 2017-2021 yang dipimpin oleh Arab Saudi menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki alasan kuat untuk merasa takut,” tulis laporan The Guardian.

Qatar tidak mendukung serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober namun mengatakan bahwa tanggung jawab ada di tangan Israel karena pendudukan tersebut. Pada pertemuan puncak Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Doha menuduh Israel melakukan genosida, pelanggaran terhadap konvensi Jenewa, dan pembantaian.

“Di sisi lain, Qatar telah berusaha mempengaruhi Iran agar tidak meningkatkan konflik Israell-Hamas. Jika ada kesamaan antara Qatar dan Iran, maka hal tersebut adalah deeskalasi,” tambah Wintour.

Taktik Qatar

Seorang sumber mengatakan bahwa bagi Doha, semua poin dalam perjanjian antara Israel dan Hamas perlu diklarifikasi dan memastikan bahwa poin-poin tersebut memiliki arti yang sama bagi kedua belah pihak.

“Misalnya, pihak Israel telah berjanji untuk “memarkir” tank-tank yang mereka gunakan di dalam Jalur Gaza, namun tidak ada seorang pun yang sepakat mengenai apa maksud dari tindakan tersebut di lapangan,” kata sumber tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sifat sensitif dari pembicaraan tersebut.

Salah satu perunding utama Qatar, diplomat karir Abdullah Al Sulaiti, merasa khawatir saat perundingan keduanya membahas soal presensi pasukan Israel di Gaza.

“Saya pikir kami akan kehilangan hal itu dan perjanjian itu tidak akan berhasil,” katanya dalam sebuah wawancara.

Untuk tetap fokus, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah menyelesaikan agendanya, membatalkan rencana perjalanan ke Moskow dan London, kata sumber yang menjelaskan tentang negosiasi tersebut.

“Di dalam salah satu kantornya di Doha pada Rabu sore, 22 November, Sheikh Mohammed memulai putaran baru perundingan hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan,” kata sumber itu.

Dalam pertemuan utama PM Qatar terdapat pimpinan Mossad, David Barnea, yang telah terbang dari Israel setidaknya untuk ketiga kalinya sejak awal perang, dan delegasi perwira intelijen Mesir. Di sisi lain, pejabat Qatar menggunakan ruangan terpisah untuk menelepon delegasi Hamas yang ada di kantornya yang terletak di sekitar Doha.

Sementara itu, strategi Qatar sendiri mendapatkan pandangan tersendiri dari Amerika Serikat (AS). Seorang pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut mengatakan Doha memberikan upaya yang penuh dalam mendamaikan kedua belah pihak.

“Doha telah menggunakan taktik tersebut untuk mendorong solusi guna menutup kesenjangan tuntutan antara Israel dan Hamas, terutama ketika para perunding menangani masalah sensitif sandera menjelang pengumuman gencatan senjata pertama,” kata pejabat AS.

Beberapa sumber lainnya menyebut pada awalnya, Israel enggan menukar tahanan Palestina yang ditahannya dengan sandera di Gaza. Meski begitu, kedua pihak menyepakati rasio tiga tahanan Palestina untuk setiap sandera sipil.

“Hamas, yang pada tahun 2011 telah memperoleh pembebasan lebih dari 1.000 tahanan Palestina yang ditahan di Israel dengan imbalan pembebasan satu tentara Israel, mengajukan tuntutan yang tinggi,” kata orang-orang yang mengetahui perundingan tersebut.

Seorang pejabat Qatar yang terlibat dalam perundingan mengatakan kuncinya adalah mengubah apa yang diusulkan oleh satu pihak hingga dapat diterima oleh pihak lain.

https://bermimpilahlagi.com “Kami bilang, ‘Dengar, mari kita lakukan diskusi putaran kedua dengan Anda sebelum kami mengirimkan proposalnya,'” katanya, berbicara tanpa mau disebutkan namanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*